pentingnya hobi tanpa tujuan
melawan obsesi pada monetisasi diri
Pernahkah kita sedang asyik melakukan sesuatu, lalu tiba-tiba ada kenalan yang nyeletuk, "Wah, hasil karyamu bagus nih, kenapa nggak dijual aja?"
Rasanya pasti familier, ya? Entah itu saat kita sedang merajut, meracik kopi, bikin kue, atau sekadar main game. Seolah-olah selalu ada dorongan tak terlihat dari lingkungan untuk mengubah kesenangan kita menjadi uang. Saya yakin, teman-teman juga sering merasa bersalah kalau sedang rebahan santai atau melakukan aktivitas yang dilabeli "nggak produktif". Di kepala kita selalu muncul perasaan bahwa setiap detik yang kita punya harus menghasilkan sesuatu, harus ada Return on Investment (ROI)-nya. Kita merasa berdosa kalau cuma diam. Mari kita bedah pelan-pelan bersama, kenapa sih kita belakangan ini jadi terobsesi mengubah diri kita sendiri menjadi mesin pabrik mini?
Kalau kita mundur sedikit ke buku-buku sejarah, cara manusia memandang waktu sebenarnya baru berubah drastis sejak era Revolusi Industri. Dulu, leluhur kita mengukur waktu dari pergantian musim atau posisi matahari. Bebas dan mengalir. Tapi sejak mesin uap dan jam pabrik ditemukan, waktu mulai dipecah jadi jam, menit, dan detik.
Dari sinilah muncul pepatah terkenal yang terus menghantui kita: time is money. Kalau kita sedang tidak menghasilkan uang, berarti kita sedang membuang-buang uang. Pemikiran ini pelan-pelan meresap dalam-dalam ke DNA budaya kita. Padahal pada awalnya, istilah hobby muncul sebagai cara kelas pekerja untuk melepaskan penat setelah seharian bekerja keras. Hobi murni dilakukan untuk kesenangan batin. Tapi sekarang batas antara kerja dan main jadi sangat kabur. Kita hidup di tengah pusaran hustle culture. Hobi seolah baru diakui dan sah kalau bisa diubah jadi side hustle. Tapi jujur saja, ada yang aneh di sini. Kenapa saat hobi kita akhirnya menghasilkan uang, kita malah sering merasa hampa dan lelah?
Mari kita tengok fenomena psikologis yang sangat menarik bernama Overjustification Effect. Konsep ini menjelaskan kenapa monetisasi sering kali justru membunuh passion kita.
Singkatnya begini. Saat kita melakukan sesuatu karena murni suka, otak kita digerakkan oleh motivasi intrinsik. Ada kebahagiaan murni dari dalam diri. Tapi, saat hadiah eksternal seperti uang, nilai, atau bahkan pujian dan likes di media sosial mulai masuk, motivasi intrinsik kita pelan-pelan tergusur. Otak kita seolah berbisik, "Oh, kita ngelakuin ini buat dibayar ya, bukan karena seru." Begitu bayarannya hilang, kliennya rewel, atau jumlah likes-nya turun, kita tiba-tiba kehilangan minat sepenuhnya pada hal yang tadinya sangat kita cintai. Saya dan teman-teman mungkin sering melihat cerita tentang orang yang hobi masak, lalu nekat buka katering, dan akhirnya malah benci masuk dapur. Pertanyaannya, kalau otak kita bereaksi se-defensif itu terhadap komersialisasi hobi, apakah ada fungsi tersembunyi dari kegiatan "tanpa tujuan" ini yang selama ini kita abaikan secara sains?
Jawabannya ternyata tersimpan rapi di dalam sistem kabel otak kita. Saat kita melakukan kegiatan tanpa tujuan—murni demi kesenangan—otak kita sebenarnya sedang mengaktifkan apa yang oleh para ahli saraf disebut Default Mode Network (DMN).
DMN adalah jaringan saraf yang justru menyala sangat terang saat kita sedang tidak fokus pada tugas berat atau pencapaian target. Secara evolusioner, mamalia dirancang untuk bermain (play). Bermain tanpa tujuan bukanlah hak prerogatif anak kecil saja. Bagi orang dewasa, aktivitas bermain ini sangat krusial untuk menjaga neuroplasticity, yaitu kemampuan otak untuk terus berubah, bertumbuh, dan beradaptasi. Saat kita melukis dengan jelek, bernyanyi fals di kamar mandi, atau merakit mainan tanpa niat pamer di Instagram, korteks prefrontal kita (yang merupakan pusat logika dan kecemasan) akhirnya bisa beristirahat. Otak kita sedang melakukan reset sistem secara biologis. Ia membuang hormon stres kortisol, lalu merajut kembali sel-sel memori dan memantik kreativitas. Ironisnya, untuk bisa benar-benar jernih dan produktif di tempat kerja, secara sains kita justru wajib memiliki waktu di mana kita sama sekali tidak berguna dan tidak produktif.
Jadi, mari kita sepakati satu hal penting bersama hari ini. Kita tidak berutang produktivitas pada siapapun selama 24 jam penuh.
Sudah saatnya kita menormalisasi punya hobi yang tidak menghasilkan apa-apa. Hobi yang mungkin murni hanya menghabiskan uang, menghabiskan waktu, dan tidak membuat kita jadi influencer. Mari kita berikan izin pada diri kita sendiri untuk melakukan sesuatu dengan amatir. Melukislah meski hasilnya mirip coretan anak balita. Berkebunlah meski tanamannya kadang layu. Bermusiklah meski temponya berantakan. Teman-teman, nilai kita sebagai manusia bukanlah tentang seberapa banyak kemampuan kita bisa di-monetisasi. Kadang kala, pencapaian terbaik dan paling sehat yang bisa kita lakukan hari ini adalah duduk santai, melakukan sesuatu yang sama sekali tidak ada gunanya, dan sekadar merasa bahagia karenanya.